dari pelepah bibirmu, partitur
yang senantiasa indah
mengecup setiap pasang pendengar,
di tiap fajar
merapalkan desah doa dalam
belaian embun..
Tlah kumaknai jutaan warna jiwa,
barangkali
ulasan cat mulai menggelitik
gemurat sukma, yang
tiap debarnya menggemuruhkan
seisi nadi
yang pada akhirnya mengikat
nurani..
Tlah kutitipkan ucap yang
merebahkanmu atas
semilir rindu pada merpati putih
bersayap
jauhar, yang bertaburan selaksa
rinai pada
bola-bola penawan logika..
Tlah kunikmati denyut-denyut
dalam helamu..
Menggemerisikkan, seakan milyaran
neuron
tak memandang luka sendirinya
aku,
yang temani atmaku temukan
penghujung jalan..
Tabirmu menyeruakkan berjuta
anugerah,
menerbitkan rembulan dimana kau
temukan
sosok-sosok yang begitu
mengingatmu, cinta
itu menelikung jauh ke dalam
sela-sela cahayamu..
Aku mencintaimu, membiarkanmu
menebarkan
semai-semai takwa dalamku, tak
peduli
seberapapun lidah yang menggerutukan
atau lenguh yang mencaci..
Aku mencintaimu, membiarkanmu
temani
dalam remang sepertigaku,
menikmati sejuknya
ujung lembar sujudku yang lembab,
barangkali kutemukan kau di ujung
jalan..
Aku mencintaimu atas segala
partikel yang
terhirup, segala analisaku atas
keindahanmu mungkin
tak semegah mahligai persembahan
dan pembalasan
cintamu padaku..
“Aku mencintaimu, selalu dan selamanya…”
Cimahi, 01 Oktober 2013
(Zahira Qatrunnada)

0 komentar:
Posting Komentar