Header h1 { height: 0px; visibility: hidden; display: none; } .Header .description { height: 0px; visibility: hidden; display: none; }
Selasa, 18 Februari 2014 | By: Unknown

Malaikat Tersulam Cinta

Kala senja kelam mencekam..
Kaki tiada beralas menyeret luka..
Tubuhku merinai, jiwaku berhembus..
Biarlah jiwa kita berantuk dalam nirwana..
Biarkan tubuhku tubuhmu ruangi segmen cakrawala..


Selisir desahmu mengetuk pilar-pilar sukma..
Kuterbangun di balik tabir, mengecup deritamu..
"Kembalilah! Kembalilah!"
Tuhan takkan berimu cinta tanpa aku..
Tuhan tahu akulah Aphrodite yang menyusuri lumbungmu..


Kuledakkan Sirius 'tuk cari serpihan sayapmu..
Kutemui Procyon yang menganak buliran semesta..
Lepaskan mata-mata panah 'tuk mengitarimu..
Kuhujamkan pada dewa bersayap duka..
Tiada harap kau lepas dari genggamku..


"Lihatlah! Lihatlah!"
Sayapku runtuh, cahayaku redup..
Berjuta komet menghantamku..
Jeritanku laksana supernova para galaksi..
Akulah pendar penghias kharismamu..


"Dirimu, sang Malaikat Tersulam Cinta...."





Cimahi, 13 Mei 2013
(Zahira Qatrunnada)

Sederhana yang Sempurna

Entah, harmoni apa yang membuncah dalam imanku..
Denyut-denyut klausa menggumamkan asa di dada..
Tuhan, ada apa denganku? Ada atma yang merengkuhku..
Mengecup rindu pada buaian gemintang dalam gulita..

Kamu : perebah dunia partiturku
Gita-gita berjingkrak bak senandung flamingo musim semi..
Kamu : sederhana
Hanya dekapan ronggaku yang menceracai tentangmu..

Aku tak mampu memiliki segi-segi dirimu..
Tak ada kuasa, Tuhan yang menunjukkanmu padaku..
Tuhan yakinkanku memijak jejak-jejak pasirmu..
Aku mengelabuimu dengan sempurna..

Kamu : mata air teduh penyentuhku
Hembusanmu merayapi kedukaan..
Kamu, kenapa harus kamu?
Ucapmu yang menggetarkan niagara cintaku..

Aku tak ingin membohongi nuansa sukma..
Tak ada upaya, Tuhan yang membawamu padaku..
Tuhan, yakinkanmu jelajahi amazonku..
Kamu berikanku sederhana..

"Sederhana yang membuat Cinta Sempurna.."

  



Cimahi, 29 April 2013 
(Zahira Qatrunnada)

Dunia Seumpama Surga

Gelombang-gelombang mega berlarian di padang..
Aku mencium segala aroma tawa dan duka..
Aku merebahkan segala duka, melepasnya bersama riak-riak angin..
Perlahan gemerisik ilalang menyeruak sukma..
Aku mengkristalkan ribuan air mata yang kutampung..
Barangkali semua duka lenyap tersapu angin..
Atau tangisku tertutupi sesuara ilalang...

Terpaku di tengah keheningan..
Aku berpikir, "Mengapa tak ada yang mendengar celotehku?"
Mungkin aku sama seperti ilalang..
Berbisik untukku sendiri..
Tapi langit mengertiku..
Melengkungkan tujuh warna pelangi di atas lukaku..
Hingga pada akhirnya senyumku menjuntai..

Akulah dunia dengan segala tawa dan duka..
Akulah serpihan sayap nilam di langit..
Akulah gemintang yang terangi rumahmu..
Meninggalkan sejuta kilauan pada bola matamu..
Aku masih disini, karena aku tahu..
Aku sangat berharga dilahirkan ke bumi..
Untuk dunia yang seumpama surga...




Cimahi, 25 Januari 2013

(Zahira Qatrunnada)



Genta Silir

Engkau, seperti angin yang berhembus ke dalam jendela kamarku,
kemudian Engkau lenyap dan kututup jendela itu.
Kurindukan hembusan manja yang memainkan lembar kerudungku,
kurindukan aroma sejuk pada sela-sela kamarku.

Kubuka jendela itu, barangkali kutemukan Engkau ingin menyelinap masuk.
Tapi berhari-hari Engkau tak datang membawa kisah untukku.

Suatu ketika, Engkaupun mendatangiku dengan sangat lembut saat itu.
Dengan egoisku, kututup jendela itu rapat. 
Membiarkanmu menyeruak dalam seisi kamarku.
Tak ingin kubiarkan Engkau pergi begitu saja, kubiarkan Engkau terperangkap.
Bertahun-tahun bersamaku akan kubiarkan Engkau berhembus 
di balik lembar kerudungku, kedua jemariku dan kedua pipiku.
Lalu aku dan Engkau kan keluar dari rumah bersama,
dengan gaun putihku dan Engkaupun mendentangkan lonceng-lonceng itu.
Untukku.
Menikmati 36.500 makan malam bersamaku dan tetap bersamaku
seribu tahun lagi.




Bandung, 1 November 2013
(Zahira Qatrunnada)