Header h1 { height: 0px; visibility: hidden; display: none; } .Header .description { height: 0px; visibility: hidden; display: none; }
Selasa, 18 Februari 2014 | By: Unknown

Genta Silir

Engkau, seperti angin yang berhembus ke dalam jendela kamarku,
kemudian Engkau lenyap dan kututup jendela itu.
Kurindukan hembusan manja yang memainkan lembar kerudungku,
kurindukan aroma sejuk pada sela-sela kamarku.

Kubuka jendela itu, barangkali kutemukan Engkau ingin menyelinap masuk.
Tapi berhari-hari Engkau tak datang membawa kisah untukku.

Suatu ketika, Engkaupun mendatangiku dengan sangat lembut saat itu.
Dengan egoisku, kututup jendela itu rapat. 
Membiarkanmu menyeruak dalam seisi kamarku.
Tak ingin kubiarkan Engkau pergi begitu saja, kubiarkan Engkau terperangkap.
Bertahun-tahun bersamaku akan kubiarkan Engkau berhembus 
di balik lembar kerudungku, kedua jemariku dan kedua pipiku.
Lalu aku dan Engkau kan keluar dari rumah bersama,
dengan gaun putihku dan Engkaupun mendentangkan lonceng-lonceng itu.
Untukku.
Menikmati 36.500 makan malam bersamaku dan tetap bersamaku
seribu tahun lagi.




Bandung, 1 November 2013
(Zahira Qatrunnada)



0 komentar:

Posting Komentar